Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dalam Sunan beliau nomor (419) dengan sanad yang shohih kepada Al Hasan yang berkata:
قال سعد بن عبادة: يا رسول الله، إني كنت ابن أم سعد، وإنها ماتت، فهل ينفعها أن أتصدق عنها؟ قال: «نعم» . قال: فأي الصدقة أفضل؟ قال: «اسق الماء» قال: فجعل صهريجين بالمدينة. قال الحسن: فربما سعيت بينهما وأنا غلام
“Sa’d bin Ubadah berkata: Wahai Rosululloh, sesungguhnya saya adalah anak Ummu Sa’d, dan beliau sekarang sudah meninggal. Maka apakah bermanfaat bagi beliau jika saya bershodaqoh atas nama beliau?” Nabi menjawab: “Iya.” Sa’d bertanya: “Maka shodaqoh apa yang paling utama?” Beliau menjawab: “Berikanlah minuman.” Al Hasan berkata: “Maka Sa’d membikin Shihrijain (dua telaga) di Madinah. Maka terkadang aku berlari-lari kecil di antara dua telaga tadi ketika aku masih anak-anak.”
Al Jauhariy rohimahulloh berkata: “Shihrij kata tunggal dari Shoharij, dan dia itu bagaikan telaga yang berkumpul di dalamnya air.” (“Ash Shihah”/1/hal. 326).
Maka hadits tersebut hasan li ghoirih.11:31
Hadits ini datang juga dari jalur lain yang amat lemah sekali, diriwayatkan oleh Ath Thobroniy rohimahulloh dalam “Al Mu’jamul Kabir” (5385) yang berkata: haddatsana Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah: tsana Dhiror bin Shord Abu Nu’aim Ath Thohhan: tsana Abdul ‘Aziz bin Muhammad: ‘an ‘Umaroh bin Ghuzayyah: ‘an Humaid bin Abish Shin’ah: ‘an Sa’d bin Ubadah:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال له: «يا سعد، ألا أدلك على صدقة يسيرة مؤنتها، عظيم أجرها؟» قال: بلى، قال: «تسقي الماء» ، فسقى سعد الماء.
“Bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Wahai Sa’d, maukah engkau aku tunjukkan pada shodaqoh yang bebannya mudah tapi pahalanya agung?” Sa’d menjawab: “Tentu.” Beliau bersabda: “Engkau memberikan minum.” Maka Sa’d memberikan minum.”
Akan tetapi di dalam sanadnya ada Dhiror bin Shord Abu Nu’aim Ath Thohhan. Yahya bin Ma’in berkata: “Di Khufah ada dua pendusta: Abu Nu’aim An Nakho’iy dan Abu Nu’aim Dhiror bin Shord.” Al Bukhoriy dan An Nasaiy berkata: “Dia matrukul hadits.” An Nasaiy pada kali yang lain berkata: “Dia tidak bisa dipercaya sama sekali.” Husain bin Muhammad Al Qubabiy berkata: “Para ahli hadits meninggalkan dia.” (“Tahdzibut Tahdzib”/4/hal. 456).
Dan datang juga hadits ini dalam Sunan Abi Dawud nomor (1681) tapi di dalamnya ada rowi mubham (yang tidak disebutkan namanya).
Dua jalur terakhir tadi tak bisa untuk pendukung.
Maka hukum hadits Sa’d adalah hasan lighoirih. Dan yang memperkuatnya juga adalah terkenalnya pengairan Sa’d bin Abi Waqqosh di Madinah yang dinamakan oleh Al Hasan Al Bashriy sebagai Shihrij. Dan dia adalah telaga yang ada di kebun “Al Mikhrof”.11:32
Dan yang memperkuatnya lagi adalah hadits Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma:
أن سعد بن عبادة رضي الله عنه توفيت أمه وهو غائب عنها، فقال: يا رسول الله إن أمي توفيت
وأنا غائب عنها، أينفعها شيء إن تصدقت به عنها؟ قال: «نعم» ، قال: فإني أشهدك أن حائطيالمخراف صدقة عليها. (أخرجه البخاري (2756)).
وأنا غائب عنها، أينفعها شيء إن تصدقت به عنها؟ قال: «نعم» ، قال: فإني أشهدك أن حائطيالمخراف صدقة عليها. (أخرجه البخاري (2756)).
“Bahwasanya Sa’d bin Uba dah rodhiyallohu ‘anh ibunya meninggal dalam keadaan dia tidak hadir di sisinya. Maka dia bertanya: “Wahai Rosululloh, sesungguhnya ibu saya meninggal dalam keadaan saya tidak hadir di sisinya. Maka apakah bermanfaat bagi beliau jika saya bershodaqoh atas nama beliau?” Nabi menjawab: “Iya.” Dia berkata: “Maka sungguh saya menjadikan Anda sebagai saksi bahwasanya kebun saya “Al Mikhrof” menjadi shodaqoh atas nama beliau.”(HR. Al Bukhoriy (2756)).
Al Munawiy rohimahulloh berkata: “Posisi yang menyebabkan pemberian minum tadi menjadi shodaqoh yang lebih utama daripada yang lainnya adalah jika keperluan orang-orang kepada air tadi amat besar, sebagaimana hal itu dominan di wilayah Hijaz karena sedikitnya air di situ. Dan semisal dengan itu pula jalan yang dilalui oleh jamaah haji. Dan yang semacam itu. Soalnya jika tidak demikian, semacam roti itu lebih utama daripada air, lebih-lebih lagi di masa kenaikan harga dan kelaparan.” (“Faidhul Qodir”/2/hal. 37).
